Kisah Inspiratif : Belajar Kehidupan dari Penjaja Siomay Pink
![]() |
| Source : Facebook |
Seorang pria paruh baya nampak bersemangat mengayuh sepeda
dengan nuansa serba pink di Kawasan Kambang Iwak, Palembang. Pria paruh baya
tersebut diketahui bernama Sriyono. Kesehariannya dihabiskan di atas sepeda, menjajakan
Siomay Pink berkeliling menyusuri jalanan Kota Palembang.
Atribut yang dikenakankannya pun tampak unik, semua
bernuansa pink, mulai dari sepeda, dandang siomay, pisau, seragam, tutup kepala,
jam tangan hingga sandal yang dikenakan semua berwarna pink.
Saat ditanya mengapa harus warna pink? Sriyono mengatakan
bahwa warna pink merupakan warna kesukaan putrinya yang kini tercatat sebagai
mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsri.
"Pink adalah warna kesukaan putri saya. Dan saya sama
sekali tidak malu mengenakannya, yang penting dari hasil jualan siomay anak
saya bisa kuliah," ujar Sriyono kepada Sripoku.com, Rabu (26/9/2018).
Siomay yang dijual Sriyono sama dengan siomay pada umumnya,
namun yang membedakan adalah bahan dasar ikan maupun ayam pilihan, dan kuah
siomay ada resep tersendiri dari empunya sehingga siomay pink yang dijual
Sriyono berbeda dari siomay lainnya.
Untuk satu siomay dijual Rp 7 ribu dan biasanya untuk satu
porsi Rp 20 ribu. Omzet per hari bisa mencapai Rp 600 ribu sampai Rp 700 ribu.
Sedangkan di akhir pekan bisa mencapai Rp 1,5 juta per hari.
Sriyono berharap ke depan dirinya bisa mengembangkan usaha Siomay
Pink miliknya ini agar bisa berjualan menetap di suatu ruko atau warung kecil,
dan bahkan bisa memiliki beberapa outlet cabang.
Namun ada kisah unik di balik perjalanan Siomay Pink ini.
Siapa sangka Sriyono dulunya adalah seorang miliarder!
Kisah hidupnya cukup inspiratif, seperti dikutip Sripoku.com
dari BangkaPost.com nama Sriyono sudah viral sejak tahun 2015, terkait bisnis siomay
yang dijalaninya pada waktu itu. Sungguh tidak disangka, ternyata sosok
Sriyono dulunya orang kaya yang memiliki kekayaan hingga miliaran rupiah!
Lalu mengapa perjalanan hidupnya justru berakhir dengan
menjadi tukang siomay keliling?
Dikutip Sripoku.com dari Bangka Post.com, kisah sukses Sriyono dimulai pada tahun 1969.
Pada tahun itu, pria kelahiran Klaten, 21 Juli 1954 tersebut
memutuskan untuk merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai sales mobil.
Ketika itu, tiba-tiba saja dia sangat menggemari siomay, dan
kemudian memutuskan untuk belajar cara membuat siomay.
Lantas Sriyono berguru pada seorang keturunan Tiongkok asal
Pulau Bangka. Guru tersebut menjanjikan resep rahasia membuat siomay yang lezat
dengan syarat Sriyono mau bekerja selama setahun tanpa digaji.
Beberapa tahun kemudian, sang guru meninggal dan mewariskan
usaha siomay kepada Sriyono. Pada 1980-an, Sriyono memberanikan diri memulai
usaha siomay keliling di Jakarta dengan modal patungan dengan beberapa teman.
Berbagai cara ditempuh untuk membesarkan usaha tersebut.
Mulai membikin armada siomay sepeda keliling sampai mendirikan warung-warung
kecil.
Puncak sukses diraih pada 1996 ketika dirinya berhasil
membuat outlet di salah satu mal bergengsi di ibukota, yakni Plaza Senayan.
Usahanya terus berkembang hingga ia berhasil membuka
beberapa outlet cabang. Pendapatan bisnisnya ketika itu mencapai Rp 2 miliar
per tahun, dia menikmati sukses berjualan siomay dengan berstatus bujangan.
Bahkan bisnis Sriyono sama sekali tak tergoyahkan ketika
krisis moneter melanda Indonesia pada 1998. Dia justru masih bisa mendirikan
outlet di beberapa lokasi lainnya.
April 1999, Sriyono memutuskan untuk mengakhiri masa lajang
dan menikahi putri seorang polisi. Namun pernikahan tersebut justru menjadi bom
waktu untuk Sriyono. Kehidupan rumah tangganya ternyata tak bisa sesukses
bisnisnya. Pertengkaran demi pertengkaran pun muncul, sehingga konsentrasi
Sriyono pada bisnisnya mulai berkurang.
Persoalan rumah tangganya perlahan-lahan membuat bisnisnya
bangkrut!
Akhirnya, Sriyono terpaksa menjual hak paten Siomay Senayan
dan usahanya pun gulung tikar.
Awal 2004, setelah 4 tahun 7 bulan berumah tangga dan
dikarunia dua anak, sang istri menggugat cerai Sriyono. Setelah perceraian,
sang mantan istri lantas mengasingkan diri dan membawa serta dua anak Sriyono.
Sejak itu dia tidak pernah lagi bertemu kedua buah hatinya.
Dalam kondisi bangkrut, Sriyono sempat ditampung mantan rekan-rekan bisnisnya.
Seketika kehidupan Sriyono berubah 180 derajat.
Bahkan ia sempat menggelandang dan tidur di jalanan. Tiap
malam, dia tidur berpindah-pindah, dari halte bus ke kolong jembatan dan dari
pinggir jalan ke masjid-masjid.
Akhirnya pada 2009, Sriyono memilih menetap di Masjid Al
Bina di kawasan Senayan. Beruntung saat itu ada yang memberinya modal. Dan ia
pun kembali berjualan siomay meski hanya berkeliling mengayuh sepeda, dengan
tampilan yang sangat eksentrik.
Dengan penampilannya yang eksentrik itu, ia berharap suatu
hari kelak kedua anaknya mengetahui, sehingga ia dapat bersua dengan
mereka setelah lima tahun berpisah tanpa kabar.
Namun usaha tampil eksentrik tidak semudah yang ia bayangkan.
Setiap hari Sriyono harus rela menjadi bahan ejekan orang-orang yang lewat.
Perjuangan Sriyono akhirnya membuahkan hasil. Ia diundang
dalam sebuah acara televisi, dan akhirnya bisa berjumpa anaknya kembali.
Pada akhirnya takdir membawa Sriyono untuk mencari
peruntungan di Kota Pempek, Palembang, dan dirinya menyatakan akan tetap
berjualan siomay sambil menunggu perkuliahan putrinya selesai hingga menjadi
dokter seperti yang diimpikannya.
Berkah selalu pak Sriyono! Kebahagiaan tidak
melulu dikarenakan memiliki harta berlimpah. Hidup berdampingan dengan
orang-orang yang kita sayangi sudah lebih dari cukup.
Semoga kisah ini menginspirasi.

Komentar
Posting Komentar