Cara Jitu Mengatasi Faktor Emosional Bagi Investor Saat Harga Saham Anjlok!
Penulis : Made Kusumawati *)
Saat kita melakukan pembelian suatu saham tentu kita berharap harganya akan cenderung naik. Jika anda memilih menjadi seorang trader (berinvestasi untuk jangka pendek), maka tentunya anda berharap dalam 1-3 hari ke depan saham yang anda beli mengalami kenaikan, sehingga anda dapat menjualnya dengan keuntungan 2-5%. Sementara jika anda memilih menjadi investor jangka panjang, maka tentunya tidak masalah jika terjadi penurunan selama 1-3 hari, asalkan diikuti dengan rebound (kenaikan tinggi). Sehingga apabila saham di-hold dalam jangka waktu misalkan 3 bulan ke depan, maka akan memberikan keuntungan lumayan besar.
Namun apa yang kita harapkan tidak selamanya sesuai harapan. Dalam situasi tertentu kita bahkan menjumpai hal-hal yang sangat mengecewakan. Yaitu penurunan drastis hingga menyentuh ARB (Auto Rejection Bawah). Apalagi jika ARB terjadi bukan hanya sehari, melainkan beberapa hari!
Hingga membuat kita panik, dan mengalami hal-hal berikut :
1. Stres, dengan diikuti hilangnya nafsu makan, kurang bergairah, tidak bisa tidur. Sehingga kesehatan terganggu.
2. Bad mood, sehingga mudah marah, mudah tersinggung, berakibat hubungan dengan sekitar terganggu. Teman, keluarga, kerabat menjadi keheranan dengan perubahan sikap kita ini.
3. Situasi panik bisa menstimulus kita untuk melakukan hal-hal tanpa pikir panjang atau tergesa-gesa. Seperti misalnya melakukan cut loss tanpa alasan yang jelas. Dan celakanya lagi dua tiga hari kemudian saham yang sudah di cut loss malah mengalami kenaikan signifikan!
Tentu situasi seperti ini kian membuat kita semakin bad mood!
Agar anda terhindar dari ketiga hal seperti disebutkan di atas, berikut diberikan 4 tips. Semoga bermanfaat, dan dapat mengatasi faktor emosional yang muncul saat anda menghadapi situasi yang tidak bagus saat berinvestasi saham.
1. Kita sama-sama tahu bahwasanya berinvestasi saham mengandung risiko. Pergerakan harga saham dari hari ke hari naik-turun. Jadi sebelum berinvestasi di pasar modal, mau tidak mau anda harus mampu mengendalikan emosional. Jika sedikit-sedikit baper tentu akan menyulitkan diri anda sendiri, karena kondisi kesehatan dan hubungan dengan orang-orang sekitar bisa terganggu akibat ke-baper-an anda.
Mengendalikan emosi dapat dilakukan dengan berupaya menenangkan diri sejenak saat menghadapi situasi yang tiba-tiba buruk atau tidak sesuai harapan.
Setelah itu, barulah anda mencoba mencari informasi kepada pihak-pihak yang menurut anda tepat, seperti staf Sekuritas, analis pasar modal, maupun pihak lainnya yang menurut anda punya keahlian di bidang ini.
Setelah itu, barulah anda mencoba mencari informasi kepada pihak-pihak yang menurut anda tepat, seperti staf Sekuritas, analis pasar modal, maupun pihak lainnya yang menurut anda punya keahlian di bidang ini.
Anda bisa menanyakan mengapa hal ini bisa terjadi, apa yang menjadi penyebabnya, dan apa yang mesti segera anda lakukan untuk mengatasinya.
Dengan pikiran yang tenang, anda dapat mencari solusinya dibanding jika anda dalam kondisi panik.
2. Bekali diri anda dengan ilmu berkaitan dengan pasar modal. Pelajari analisa fundamental, prospek bisnis, dan analisa teknikal sebagai senjata anda dalam mengarungi pasar modal.
Dengan demikian apabila terjadi penurunan tajam, anda bisa mengetahui apakah itu hanya bersifat sementara, nanti juga akan naik lagi. Atau memang ada sesuatu hal terjadi yang berpengaruh terhadap bisnis emiten, sehingga menurut prediksi anda memang harus dilakukan cut loss!
Jadi dalam hal ini tindakan cut loss tidak dilakukan dengan tergesa-gesa atau dalam kondisi panik. Melainkan sudah diperhitungkan secara matang, berdasarkan analisa yang anda lakukan.
3. Jika saat ini anda adalah seorang investor pemula, maka untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan, cobalah untuk mengkoleksi saham-saham dari perusahaan-perusahaan besar yang selama ini dikenal berkinerja baik, atau yang biasa disebut saham-saham blue chip dan LQ45.
Saham-saham jenis ini umumnya tangguh menghadapi berbagai situasi yang buruk. Belilah di saat mengalami koreksi, bukan saat megalami kenaikan terus-menerus. Sehingga baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang, anda berpotensi meraih profit maksimal.
4. Sehubungan kebijakan normalisasi BEI terhadap ARB, di mana ARB yang semula di masa Pandemi (mulai kuartal 1 tahun 2020) ditetapkan maksimal sebesar 7%. Maka sejak 5 Juni 2023 dinaikkan menjadi maksimal 15%. Dan pada 3 September 2023 dikembalikan ke kondisi normal seperti sebelum Pandemi, yaitu ARB simetris, dengan ketentuan :
Saham harga 50 - 200, ARB 35%.
Saham harga >200 - 5000, ARB 30%.
Saham harga >5000, ARB 20%.
Bagi para investor yang baru memasuki pasar modal di saat Pandemi, tentu kebijakan ini agak membuat 'kaget', karena mereka terbiasa dengan ARB maksimal 7%. Sehingga untuk menghindari kepanikan perlu dilakukan berbagai antisipasi.
Saya sudah membuat artikel guna mengantisipasi situasi ini. Silakan klik judul artikel berikut :
ARB Simetris Akan Segera Diberlakukan, Berikut 4 Strategi Agar Terhindar dari Kerugian
Semoga bermanfaat!
* * * * * * *
*Penulis adalah seorang Blogger, Content Creator, Investor, Automotive Lover, Digital Enthusiast, dan CorComm. Practicer.
Perhatian!
Dilarang keras meng-copy atau menyalin untuk keperluan apapun sebagian maupun seluruhnya dari tulisan karya “Made Kusumawati” tanpa seijin penulis!
Dilarang keras meng-copy atau menyalin untuk keperluan apapun sebagian maupun seluruhnya dari tulisan karya “Made Kusumawati” tanpa seijin penulis!

Komentar
Posting Komentar