Cerita Inspiratif : Perjuangan Seorang Anak yang Sangat Menyayangi Ayahnya yang Sakit-Sakitan
Kisah inspiratif berikut semoga dapat menginspirasi kita semua dalam menjalani kehidupan, khususnya dalam berbakti kepada orang tua. Mengapa?
Karena berkat orang-tualah kita bisa hadir ke dunia ini. Mereka jualah yang mengurus dan merawat kita semasa kita kecil. Jadi sudah sepantasnya di saat kita besar, kita gantian merawat mereka. Apalagi jika kondisi mereka sedang tidak baik-baik saja.
* * * * * * * *
Alkisah seorang anak di Cina bernama Zhang Da, pada 27 Januari 2006 mendapat penghargaan dari pemerintahnya, karena dianggap telah melakukan “Perbuatan Luar Biasa”. Di antara 9 orang peraih penghargaan itu, ia merupakan satu-satunya anak kecil.
Yang membuatnya dianggap luar biasa, ternyata adalah pengabdiannya yang tulus pada sang ayah, serta kerja kerasnya yang pantang menyerah, ditambah perilaku dan ucapannya yang membuat simpati banyak orang.
Zhang Da ditinggal pergi oleh ibunya sejak ia berusia 10 tahun (pada tahun 2001), dikarenakan sang ibu sudah tidak tahan lagi hidup bersama suaminya yang sakit parah dan miskin. Sehingga sejak saat itu Zhang Da hidup hanya berdua dengan ayahnya yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.
Kondisi ini memaksa bocah yang saat itu belum genap berusia 10 tahun untuk memikul tanggung jawab besar. Di mana ia harus tetap bersekolah, namun ia juga harus mencari makan untuk sang ayah dan dirinya sendiri. Selain itu, ia juga harus membeli obat-obatan yang pasti tidak murah harganya.
Sungguh luar biasa apa yang dijalani oleh anak sekecil Zhang Da. Di saat teman sebayanya asyik bermain bersama teman-teman, ia justru harus memikul tanggung jawab seberat itu.
Namun ia bukan satu-satunya, Zhang Da adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak mudah menyerah dan berpasrah pada keadaan.
Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan hal-hal yang tidak baik, apalagi sampai melakukan kejahatan. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang ia kerjakan.
Setiap pagi Zhang Da berangkat dari rumah menuju sekolah dengan berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan ke dan dari sekolah itulah, ia makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui.
Kadang ia juga menemukan sejenis jamur, atau rumput, dan ia mencoba memakannya. Dari sini ia jadi tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya, dan mana yang tidak bisa ia konsumsi.
Sepulang sekolah Zhang Da bergabung dengan beberapa tukang batu, untuk membelah batu-batu besar, lantas ia memperoleh upah dari pekerjaan itu. Yang ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk ayahnya. Kehidupan seperti ini ia jalani selama 5 tahun, badannya tetap sehat, segar dan kuat.
Zhang Da merawat ayahnya yang sakit sejak ia berusia 10 tahun. Ia menggendong sang ayah ke toilet, sesekali ia memandikan ayahnya, ia juga membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan ayahnya ia kerjakan seorang diri dengan telaten.
Zhang Da menyuntik sendiri ayahnya. Harga obat-obatan yang mahal, ditambah jauhnya lokasi tempat berobat memaksa Zhang Da untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak usia 10 tahun ia mulai belajar secara otodidak tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli.
Zhang Da juga belajar bagaimana seorang perawat menyuntik pasiennya. Setelah ia merasa mampu, ia pun nekat untuk menyuntik ayahnya. Hal ini ia lakukan selama kurang lebih lima tahun, hingga ia menjadi terampil menyuntik ayahnya.
Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir pada acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju pada sosok Zhang Da, pembawa acara bertanya kepadanya :
“Zhang Da, katakan saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu inginkan terjadi dalam hidupmu?
Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah?
Jika besar nanti, kamu mau kuliah di mana? Ayo katakan saja.
Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan selama ini sebutkan saja. Mumpung di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang menonton kamu di layar televisi. Mereka bisa membantumu!”
Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa.
Lantas pembawa acara berkata lagi kepadanya,
“Sebutkan saja, mereka bisa membantumu....”
Beberapa menit Zhang Da masih terdiam… lalu dengan suara bergetar ia pun menjawab,
“Aku mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri. Mama kembalilah….!”
Semua yang hadir pun spontan menitikkan air mata karena terharu. Tidak ada yang menyangka akan apa yang dikatakan Zhang Da.
Hadirin keheranan, mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya?
Mengapa ia tidak minta sebuah rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit?
Mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, pasti semua akan membantunya.
Mungkin apa yang dimintanya itulah yang paling utama bagi dirinya. ‘Aku mau mama kembali’, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak lama, saat ia melihat mamanya beranjak pergi meninggalkan dia dan ayahnya yang sakit-sakitan.
Kisah inspiratif di atas bukan saja mengharukan namun juga menimbulkan kekaguman. Bagaimana seorang anak berusia 10 tahun dapat menjalankan tanggung jawab yang berat selama 5 tahun. Kesulitan hidup telah menempanya menjadi anak yang tangguh dan pantang menyerah.
Zhang Da boleh dibilang langka, karena sangat berbeda dengan anak-anak lainnya di jaman sekarang ini. Di mana banyak anak-anak yang segala sesuatunya selalu dimudahkan atau disediakan oleh orang tuanya. Karena alasan sayang, orang tua selalu membantu anaknya, meskipun sang anak sebenarnya mampu melakukannya sendiri.
* * * * * * * *
Semoga kisah Zhang Da ini dapat menginspirasi kita semua. Betapa beruntungnya kita yang berada di dalam keluarga utuh yang tidak ada masalah yang berarti. Dengan begitu kita tidak akan mengeluh, namun akan senantiasa bersyukur atas karunia Tuhan. Dan batin kita juga mudah tergerak untuk membantu sesama yang dalam kekurangan.

Komentar
Posting Komentar