Kisah Uang Kertas Rp 1.000 dan Rp. 100.000 yang Menginspirasi Kehidupan
![]() |
| Uang Rp 1.000 dan Rp 100.000 |
Sebagai orang Indonesia, sehari-hari anda pasti sering melihat uang kertas pecahan Rp 1.000 dan Rp 100.000, bukan?
Ya, kedua uang kertas Rp1.000 dan Rp 100.000 sama-sama dibuat dari kertas dan sama-sama dicetak serta diedarkan oleh Bank Indonesia (BI).
Namun setelah itu, keduanya berpisah di bank dan kemudian beredar di masyarakat. Kedua uang kertas tersebut berpindah tangan dari satu orang ke orang lainnya saat terjadi transaksi. Begitulah keduanya berkelana, bahkan tidak jarang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Namun sungguh tak disangka, 6 bulan kemudian nasib mempertemukan keduanya di dalam dompet seorang pemuda.
Maka mereka pun mengobrol.
Uang Rp 100.000 bertanya kepada uang Rp 1.000 :
"Kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor dan berbau amis?"
Uang Rp 1.000 menjawab :
"Karena begitu aku keluar dari bank, aku berpindah-pindah tangan di kalangan bawah, mulai dari kalangan buruh, kuli panggul, pedagang asongan, penjual ikan hingga ke tangan pengemis."
Lantas uang Rp 1.000 bertanya balik kepada uang Rp 100.000 :
"Kenapa kamu nampak masih seperti baru, rapi dan bersih, padahal kita sama-sama sudah 6 bulan keluar dari bank?"
Uang Rp 100.000 pun menjawab :
"Karena begitu aku keluar dari bank, terus aku disambut perempuan cantik dengan dandanan yang elegan, lantas aku berpindah-pindah tangan di restoran mahal, di kompleks perumahan elit, mall bergengsi dan juga hotel berbintang. Keberadaanku selalu dijaga dan tersimpan rapi di dalam dompet, aku jarang keluar dompet."
Lalu dengan penasaran uang Rp 1.000 bertanya lagi :
"Pernahkah engkau berada di tempat ibadah?"
Uang Rp 100.000 menjawab :
"Belum pernah."
Uang Rp 1.000 pun berkata :
"Ketahuilah walaupun nilaiku hanya Rp 1.000 tetapi aku selalu berada di seluruh tempat ibadah, di kotak-kotak amal, di tangan anak-anak yatim piatu dan fakir miskin. Aku bersyukur kepada Tuhan semesta alam, karena aku dapat membahagiakan mereka. Aku tidak dipandang sebelah mata karena nilaiku yang kecil, namun aku dipandang sebagai sebuah manfaat, yang menerangi hidup mereka yang dalam kekurangan.
Mendengar penjelasan uang Rp 1.000, lantas menangislah uang Rp 100.000 karena merasa besar, hebat, tinggi tetapi tidak begitu bermanfaat dan bernilai oleh penggunanya selama ini.
* * * * * * *
Semoga cerita ini memberikan hikmah kepada kita dan mengingatkan bahwa betapa rendahnya posisi seseorang, ia tetap bernilai lebih jika dapat menolong dan memberi manfaat bagi sesama. Sementara di lain pihak, mereka yang merasa berposisi tinggi dan terhormat terkadang gengsi untuk turun ke bawah, membantu sesama.

Komentar
Posting Komentar