ARB Simetris Akan Segera Diberlakukan, Berikut 4 Strategi Agar Terhindar dari Kerugian
Penulis : Made Kusumawati *)
Seperti kita ketahui BEI sejak tanggal 4 April 2023 lalu telah memberlakukan jam perdagangan normal. Dan ke depannya BEI akan menormalisasi pula kebijakan ARB (Auto Rejection Bawah). Namun akan dilakukan secara bertahap.
Untuk lebih jelasnya mengenai pemberlakuan kebijakan ini, dapat dibaca pada artikel yang sudah saya posting sebelumnya. Silakan klik judul artikel berikut :
Sehubungan pemberlakuan kebijakan tersebut, tentunya anda sebagai investor terkhusus investor pemula akan bertanya-tanya :
"Apa yang melatarbelakangi normalisasi kebijakan ini?"
Jawabnya karena Pandemi Covid sudah mereda, dan aktivitas bisnis sudah kembali berjalan normal, maka jam perdagangan maupun kebijakan ARB perlu dinormalisasi atau dengan kata lain dikembalikan ke kebijakan sebelum Pandemi Covid.
Seperti kita ketahui munculnya Pandemi Covid yang dimulai pada kuartal pertama tahun 2020, telah meluluh lantakkan kegiatan ekonomi bukan hanya di negara kita, melainkan juga seluruh dunia! Sehingga banyak perusahaan-perusahaan di seluruh dunia yang kinerjanya ambruk!
Tentu saja hal ini mempengaruhi pasar modal, di mana ambruknya kinerja emiten-emiten (perusahaan terbuka) menyebabkan harga saham ambruk juga. Bahkan ada beberapa emiten di BEI yang harganya kembali ke harga tiga-empat tahun lalu. Dan ada pula yang berada di posisi ATL alias All Time Low.
Itu sebabnya mengapa pada waktu itu BEI melakukan langkah-langkah demi melindungi kepentingan investor di pasar modal. Diantaranya dengan merubah jam perdagangan dan ketentuan ARB menjadi maksimal 7%.
Di mana saham-saham yang harganya anjlok dibatasi hanya mengalami penurunan hingga 7% saja. Bayangkan dalam situasi seperti itu jika tidak dibatasi, maka lumayan banyak saham-saham yang harganya turun hingga 20-30% hanya dalam satu hari!
Namun seiring makin kondusifnya situasi ekonomi, maka tidaklah heran jika sudah saatnya BEI mengembalikan kebijakan ARB dengan jadwal sebagai berikut :
- Ketentuan Tahap Satu akan efektif per 5 Juni 2023, di mana batas ARB maksimal 15% untuk semua harga saham.
- Ketentuan Tahap Dua akan efektif per 4 September 2023 dengan Auto Rejection Simetris (batas atas sama dengan batas bawah), di mana batas ARB maksimal 20 - 35%, sesuai harga saham (penjelasan detail bisa dibaca di link artikel yang saya cantumkan di atas).
Dengan pemberlakuan kebijakan tersebut, jika ada saham yang kinerjanya dipandang tidak bagus dari perspektif investor, maka akan dihempaskan sejauh mungkin hingga mencapai titik terendah, sesuai ketentuan ARB.
Oleh sebab itu, penting bagi para investor, terkhusus investor pemula untuk mengetahui strategi apa yang harus dijalankan agar tetap berpeluang memperoleh cuan.
Berikut saran dari saya, semoga bermanfaat.
1. Lakukan analisa fundamental dan prospek bisnis dari emiten yang hendak anda beli sahamnya.
Analisa fundamental dapat dilakukan dengan menelaah Laporan Keuangan yang telah di-submit emiten ke BEI.
Sedang prospek bisnis dapat dicek melalui Laporan Tahunan emiten yang sudah di-submit ke BEI. Di mana kita bisa mengetahui langkah-langkah pengembangan bisnis apa saja yang sedang dilakukan manajemen perusahaan agar bisnis perusahaan semakin berkembang ke depannya.
Selain itu, informasi dan berita terkait emiten di berbagai media juga bisa diikuti. Sebagai contoh informasi terkait perkembangan bisnis properti, yang tentu saja dapat mempengaruhi kinerja emiten di sektor properti.
2. Lakukan analisa teknikal.
Dalam hal ini ada sebagian orang yang beranggapan bahwa analisa teknikal tidaklah perlu.
Menurut saya baik analisa fundamental, analisa teknikal ditambah analisa prospek bisnis emiten perlu dilakukan dan menjadi bahan pertimbangan saat hendak melakukan pembelian saham. Sebab melalui analisa fundamental kita bisa mengetahui histori kinerja emiten, melalui analisa prospek bisnis kita bisa memprediksi perkembangan bisnis emiten ke depannya, dan melalui analisa teknikal kita bisa mengetahui bagaimana para investor di pasar modal mengapresiasi harga suatu saham.
Di mana dari analisa teknikal (dengan menggunakan grafik), kita dapat mengetahui :
- Posisi harga saham saat ini.
Menurut saya secara teknikal harga saham dikatakan sudah mahal, jika sudah mengalami kenaikan tinggi (berada di atas garis upper bollinger bands, dan stochastic di atas 80).
Sebab pada posisi seperti ini, harga saham rawan mengalami koreksi atau penurunan dalam.
- Bahwasanya pergerakan harga saham mengikuti hukum supply - demand. Yang berarti sebagus-bagusnya saham, tidak mungkin bisa naik terus-terusan. Demikian pula sebaliknya.
Itu sebabnya mengapa suatu saham jika sudah mencapai titik tertentu atau biasa disebut titik resisten, maka harga saham akan cenderung turun. Meskipun ke depannya berpeluang untuk naik kembali.
Namun celakanya jika peluang untuk naik kembali ternyata tidak ada! Karena itu hindari membeli saham yang harganya sudah naik terus-terusan, atau yang diistilahkan 'membeli di harga pucuk'.
Berikut contoh grafik saham yang harganya sudah 'di pucuk', tiba-tiba mengalami ARB hingga berkali-kali.
![]() |
| Suatu saham yang telah mengalami kenaikan tinggi, hingga akhirnya mengalami ARB 4 hari berturut-turut (lihat 4 titik di grafik), dan harganya di bawah harga saat rebound. |
3. Hindari membeli 'saham gorengan'.
Suatu saham dikatakan sebagai 'saham gorengan' jika saham tersebut tidak memiliki fundamental bagus, kapitalisasi pasar kecil, sehingga harganya dapat direkayasa oleh pihak tertentu, dan membuat pergerakan harganya sangat fluktuatif.
Jadi jika kita perhatikan ada suatu saham yang tiba-tiba mengalami kenaikan tinggi dalam satu hari, coba cek di grafik saham, biasanya terjadi kenaikan volume yang signifikan.
Dan jika volume harian selama ini biasanya tidak terlalu besar, maka boleh jadi kenaikan volume yang signifikan tersebut dikarenakan ada yang 'menggoreng' atau menghembuskan isu-isu tertentu (biasanya dilakukan oleh influencer), agar menarik minat para investor untuk ikut membeli saham tersebut.
Akan tetapi di saat kenaikannya dianggap sudah maksimal, maka si 'penggoreng' serta merta akan melepas sahamnya hingga mencapai ARB. Dan celakanya lagi bila ARB terjadi tidak hanya sehari, melainkan berhari-hari! Dan sang investor newbie tetap 'hold' saham tersebut tanpa mengerti apa yang harus dilakukan.
Demikian kira-kira gambaran yang lumayan mengerikan terkait perdagangan 'saham gorengan'. Karena itu, lebih baik kita bersikap konservatif, dengan memilih saham-saham yang pergerakannya biasa-biasa saja, namun naik secara perlahan, dengan didukung kinerja dan prospek bisnis yang baik.
4. Hindari membeli saham yang harganya di bawah 70.
Jangan hanya melihat murahnya harga saja. Tapi pelajari terlebih dahulu mengapa saham tersebut harganya demikian murah (di bawah 70).
Apakah lima tahun belakangan harganya di kisaran (di bawah 70) juga? Atau dulu-dulunya pernah di harga 100an, 500an bahkan 1000an?
Bandingkan pula dengan fundamental dan prospek bisnis perusahaan. Serta cek apakah emiten sedang 'tersandung masalah'.
Untuk mengecek saham-saham yang sedang bermasalah, silakan baca artikel saya dengan cara klik judul berikut ini :
Jika emiten sedang bermasalah atau anda merasa tidak yakin dengan prospek ke depannya, maka hindari mengkoleksi saham yang harganya 70 ke bawah. Mengapa?
Karena jika tiba-tiba terjadi penurunan signifikan hingga ARB, maka dimungkinkan harganya ke 50. Dan seperti sudah kita ketahui bahwa saham harga 50 biasanya dijuluki 'saham tidur'. Kita mau jual sulit sekali, sehingga modal kita 'mandeg' tidak bisa diapa-apakan. Iya kalau itu hanya berlangsung sebulan dua bulan. Kalau sampai tahunan kan sayang juga dana kita yang mestinya bisa digunakan untuk membeli saham lain, atau digunakan untuk keperluan kita.
Dan umumnya saham harga 50 ini baru bisa bangkit ke atas 50, jika ada 'booster' yang menopang, semisal kinerja emiten yang tiba-tiba kinclong, atau suatu isu positif terkait rencana pengembangan bisnis kedepannya, sehingga menarik banyak investor untuk membelinya.
Demikian penjelasan saya terkait akan diterapkannya kebijakan ARB simetris dalam waktu dekat ini. Dan hendaknya ini mendorong kita untuk lebih berhati-hati, dan senantiasa melakukan analisa lebih teliti, bukan hanya mengikuti isu atau ajakan dari pihak-pihak tertentu yang justru membuat kita terpuruk.
* * * * * * *
*Penulis adalah seorang Blogger, Content Creator, Investor, Automotive Lover, Digital Enthusiast, dan CorComm. Practicer.
Perhatian!
Dilarang keras meng-copy atau menyalin untuk keperluan apapun sebagian maupun seluruhnya dari tulisan karya “Made Kusumawati” tanpa seijin penulis!
.jpg)

Komentar
Posting Komentar